Rupiah Menembus Rp17.600 per Dolar, Desa Ikut Menanggung Beban
Nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp17.600 per dolar Amerika Serikat bukan sekadar angka di papan bursa. Di balik fluktuasi kurs itu tersimpan ancaman nyata yang merambat jauh ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa. Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Hj. Ida Nurlaela Wiradinata, memandang pelemahan rupiah sebagai ancaman yang tidak boleh dianggap enteng.
"Rakyat desa memang tidak memakai dolar, tetapi setiap kenaikan kurs terasa di harga sembako dan biaya hidup. Negara harus hadir menjaga stabilitas ekonomi rakyat sampai ke desa." tegas Ida.
Menurutnya tekanan dirasakan bukan hanya pada konsumen akhir. Para pelaku usaha kecil yang memproduksi makanan berbahan baku impor tahu, tempe, roti, produk susu olahan menghadapi dilema berat antara menyerap kenaikan biaya produksi atau meneruskannya ke konsumen yang daya belinya pun sedang tertekan.
"Kenaikan biaya impor dan distribusi berpotensi menekan pelaku UMKM, koperasi, serta rantai distribusi pangan yang menjadi tulang punggung ekonomi desa," ujar Ida. Ia menekankan bahwa daya tahan ekonomi desa sangat tergantung pada stabilitas harga barang kebutuhan pokok, sesuatu yang kini semakin rentan di bawah tekanan nilai tukar yang melemah.
Ida menilai, negara tidak boleh berdiam diri di tengah situasi semacam ini. Pemerintah harus turun tangan secara aktif, mulai dari memastikan kelancaran distribusi pangan hingga ke pelosok desa, memberikan perlindungan nyata bagi pelaku usaha mikro dan koperasi, hingga memaksimalkan peran BUMN di sektor pangan dan distribusi sebagai penyangga harga di level akar rumput.
"Negara perlu memastikan stabilitas harga, kelancaran distribusi, dan perlindungan terhadap pelaku usaha kecil agar gejolak global tidak berubah menjadi beban ekonomi rakyat di tingkat akar rumput," tegasnya.
Indonesia hingga kini masih bergantung pada impor untuk sejumlah komoditas pangan strategis. Gandum sepenuhnya diimpor, kedelai lebih dari 80 persen, bawang putih mencapai 98 persen, susu 80 persen, sementara gula industri membutuhkan antara 3 hingga 3,5 juta ton setiap tahunnya dari luar negeri. Ketika rupiah melemah tajam, biaya pengadaan semua komoditas itu langsung membengkak dalam hitungan hari. Kondisi ini diperparah oleh tekanan eksternal yang tak kalah berat. Konflik yang masih bergolak di kawasan Timur Tengah telah mendorong naiknya biaya logistik, premi asuransi pengiriman, dan tarif transportasi laut.